SIGI,โ Mantan Bupati Sigi, Mohamad Irwan Lapatta, mendorong generasi muda untuk aktif berkarya dan mandiri lewat ruang-ruang seni. Pesan itu ia sampaikan saat menghadiri kegiatan BOSARA (Bongi Mposarara), sebuah ajang seni dan dialog yang digelar oleh DPC PAPPRI Sigi bersama pemuda Desa Lolu dan Mpanau, Sabtu (2/8/2025), di RTH Taman Likuifaksi, Kecamatan Sigi Biromaru.
Dalam kesempatan itu, Irwan turut menjadi pembicara dalam talkshow bertema โPemuda Kreatif: Bergerak, Bertumbuh, dan Berdampak.โ Ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif anak muda yang menyelenggarakan kegiatan secara mandiri tanpa bergantung pada anggaran pemerintah.
โSaya sangat menyambut baik kegiatan ini. Ini bentuk keberanian yang jarang kita lihat. Kita tidak harus selalu bergantung pada siapa pun. Pemerintah memang jembatan, tetapi bukan berarti kita menunggu bantuan setiap saat. Saya salut kepada teman-teman yang sudah menginisiasi acara ini secara mandiri,โ ujar Irwan.
Lebih lanjut, Irwan mengajak pemuda Sigi untuk terus bersatu membangun ruang-ruang seni dan kreativitas yang produktif dan inklusif.
โTanpa persatuan, saya yakin kegiatan semacam ini tidak akan berjalan lancar. Kita harus belajar dari sejarah pergerakan pemuda Indonesia sejak 1908. Dari ruang-ruang kecil, lahir kesadaran besar hingga akhirnya Indonesia merdeka. Semua dimulai dari keberanian dan komitmen, bukan materi,โ tambahnya.
Irwan juga menceritakan inisiatifnya semasa menjabat Bupati Sigi, termasuk mendorong Dewan Kesenian dan DPC PAPPRI agar menjadi motor penggerak seni dan budaya lokal. Salah satu wujud nyatanya adalah penyediaan alat-alat seni serta pembangunan gedung sekretariat dan studio rekaman.
โSaya ingin studio rekaman yang sudah ada dilengkapi dengan alat-alat modern dan tradisional, agar teman-teman seniman bisa berkarya dan mandiri secara ekonomi. Saya yakin Bupati Rizal dan Wabup Samuel bisa melanjutkan cita-cita ini,โ tuturnya.
Irwan juga menekankan pentingnya menyatukan kekuatan komunitas seni lintas wilayah administratif di Sigi, agar tidak terkotak-kotak secara geografis.
โSigi itu satu. Tidak perlu terkotak-kotak antara Biromaru, Dolo, Marawola, Kulawi, atau Palolo. Semua adalah Sigi. Karena hanya dengan kesatuan kita bisa kuat,โ tegasnya.
Ia turut mendorong pemanfaatan ruang publik seperti Taman Likuifaksi dan kawasan terbuka lainnya sebagai pusat seni dan ekonomi kreatif. Termasuk pengembangan kawasan wisata berbasis UMKM yang sempat ia rintis, seperti Taman Taiganja dan Waterboom Kabobona.
Menutup paparannya, Irwan menekankan pentingnya tiga fase dalam gerakan pemuda: bergerak, bertumbuh, dan bermanfaat.
โBergerak itu penting, tapi jangan berhenti sampai di situ. Kita harus bertumbuh dan bermanfaat bagi orang lain. Pemuda-pemuda di Sigi punya kreativitas luar biasa. Jangan takut tidak punya uang, jangan takut menghadapi tantangan. Hidup harus diperjuangkan,โ pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPC PAPPRI Sigi, Yudhi Nugraha, menjelaskan bahwa kegiatan BOSARA bertujuan sebagai wadah ekspresi sekaligus ruang silaturahmi bagi generasi muda melalui seni pertunjukan.
โBOSARA itu kepanjangannya Bongi Mposarara, yang artinya malam penuh persaudaraan. Dari semangat itu kami ingin menyajikan karya-karya anak muda sebagai bentuk hiburan, ekspresi budaya, sekaligus mempererat solidaritas,โ ujar Yudhi.
Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali ruang-ruang publik yang telah dibangun oleh pemerintah agar benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya kalangan muda.
โKita ingin ruang yang ada tidak hanya jadi bangunan kosong, tapi jadi tempat lahirnya karya-karya positif dan inspiratif dari pemuda Sigi,โ tutup Yudhi.(*)
Tidak ada komentar