RUANG PUBLIK

Pameran โ€œSisaโ€ ala Kuku: Ekspresi Lingkungan yang Tersisa di 2025

×

Pameran โ€œSisaโ€ ala Kuku: Ekspresi Lingkungan yang Tersisa di 2025

Sebarkan artikel ini
Seorang pengunjung berdiri dalam diam, mengamati susunan foto bertajuk SISA yang menempel di dinding hitam. Potongan-potongan visual tentang Teluk Palu dan pegunungan di sekitarnya tersusun seperti cerita yang tak selesai, menghadirkan refleksi sunyi tentang alam yang perlahan berubah dan menyisakan jejak ingatan.
Seorang pengunjung berdiri dalam diam, mengamati susunan foto bertajuk SISA yang menempel di dinding hitam. Potongan-potongan visual tentang Teluk Palu dan pegunungan di sekitarnya tersusun seperti cerita yang tak selesai, menghadirkan refleksi sunyi tentang alam yang perlahan berubah dan menyisakan jejak ingatan.

Penulis : Mini Rivai

SEBUAH ruang sempit berukuran sekitar 2,5 x 5 meter menjadi saksi bisu kegelisahan yang dipadatkan dalam gelap. Dindingnya dicat hitam pekat, hanya diterangi satu bohlam kuning yang menggantung redup di langit-langit. Cahaya temaram itu seakan memaksa pengunjung untuk melambat, menyesuaikan mata, sekaligus membuka perasaan.

Suasana ruang pamer SISA di Rumah Tiara Coffee, Palu. Instalasi heterogen berupa benda-benda sisa, tali, tanah, dan wadah kosong disusun di ruang gelap, menciptakan lanskap simbolik tentang hubungan manusia, lingkungan, dan ruang hidup yang terus mengalami pergeseran.
Suasana ruang pamer SISA di Rumah Tiara Coffee, Palu. Instalasi heterogen berupa benda-benda sisa, tali, tanah, dan wadah kosong disusun di ruang gelap, menciptakan lanskap simbolik tentang hubungan manusia, lingkungan, dan ruang hidup yang terus mengalami pergeseran.

Palu, 3 Januari 2026 di sudut terdalam ruangan, sebuah layar monitor berkedip-kedip. Riak ombak berwarna merah darah bergulung pelan di Teluk Palu, dengan latar samar Pegunungan Gawalise yang tampak tercabik. Bukan oleh waktu, melainkan oleh aktivitas tambang yang terus merayap. Visual itu bukan sekadar tayangan, melainkan semacam alarm sunyi tentang luka ekologis yang tak pernah benar-benar sembuh.

Di dinding sebelah kanan, kolase foto bertajuk โ€œSisaโ€ menempel rapat. Ukurannya kecil-kecil, disusun berdampingan, seperti potongan memori yang terpaksa dipadatkan. Foto-foto bencana, jejak kerusakan alam, dan lanskap yang kehilangan warna hijaunya membentuk satu garis cerita linear tentang Teluk Palu dan pegunungan di sekitarnya yang perlahan memudar. Pohon-pohon tak lagi dominan, hijau tak lagi utuh. Yang tersisa hanyalah fragmen.

Berhadapan langsung dengan dinding foto itu berdiri seorang laki-laki bertubuh kurus, berkulit putih, tinggi, dengan kumis tipis dan janggut jarang. Usianya sekitar 30-an. Dialah Kukuh Ramadhan, atau yang akrab disapa Kuku penggagas pameran tunggal ini. Ia bukan hanya kolektor foto dan desainer pameran, tetapi juga pemilik cerita, sekaligus saksi dari perubahan lanskap yang tak pernah ia sepakati.

Pameran bertajuk โ€œSISAโ€ ini menjadi medium Kuku untuk mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap kondisi lingkungan saat ini. Bukan dengan teriak, melainkan dengan mengajak orang masuk ke ruang sempit, gelap, dan penuh residu.

โ€œIni hari terakhir dari Sisa. Saya memang menampilkan tema ini karena semua berasal dari sisa-sisa. Karya lama yang punya irisan dengan isu lingkungan dan pernah ditampilkan dalam pameran World Bank Resilience,โ€ ujar Kuku pelan.

Menurutnya, karya-karya dalam โ€œSISAโ€ adalah bagian-bagian yang tak pernah selesai, terutama sejak polemik penolakan pembangunan tanggul di Teluk Palu. Dari yang tersisa itu, ia melihat keterhubungan yang tak terpisahkan antara teluk dan pegunungan dua entitas alam yang kini sama-sama berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

Di tengah ruang pamer, tergeletak sepenggal batang pohon. Kayu itu tampak rapuh, berpori, dan berlubang bekas rayap yang pernah hidup di dalamnya. Karya tersebut diberi judul โ€œMengusir Rayapโ€. Sepintas sederhana, namun menyimpan metafora yang tajam.

Kuku bercerita, rayap-rayap itu sejatinya hidup tenang di batang pohon yang sudah terbuang. Mereka tidak mengganggu, tidak merusak milik siapa pun. Namun ketika batang kayu itu dianggap bernilai, rayap justru diusir.

โ€œRayap itu hidup aman di dalam batang pohon yang terbuang. Tidak mengusik, tidak mengambil, tidak merusak. Tapi tiba-tiba ada yang melihat, tertarik, lalu menguasainya dengan cara mengusir. Saya pikir ini sama dengan kita masyarakat yang diusir karena tanahnya dianggap layak untuk pertambangan,โ€ katanya.

Melalui metafora itu, Kuku menyinggung realitas sosial yang kerap terjadi: masyarakat lokal yang tersingkir atas nama investasi dan pembangunan. Tanah berubah fungsi, gunung dikupas, teluk direklamasi, sementara warga dipaksa menyesuaikan diri dengan kebijakan yang tak pernah mereka rancang.

Pameran โ€œSISAโ€ menghadirkan karya-karya heterogen fotografi, patung, instalasi, hingga benda-benda sisa yang disatukan oleh satu benang merah: kegelisahan. Kegelisahan terhadap kebijakan yang tak berpihak pada lingkungan, kemarahan masyarakat yang tak kunjung menemukan solusi, serta sistem dan regulasi yang terus berputar tanpa benar-benar menyembuhkan.

Lebih dari sekadar pameran seni, โ€œSISAโ€ adalah ruang refleksi. Ia mengajak pengunjung untuk bertanya: apa yang benar-benar tersisa dari pembangunan yang kita banggakan? Alam yang rusak, masyarakat yang tersingkir, atau ingatan kolektif yang perlahan dilupakan?

Pameran berkonsep Heterogen Installation Art ini digelar di Rumah Tiara Coffee sejak 27 Desember 2025 dan resmi berakhir pada 3 Januari 2026. Penutupannya ditandai dengan pemutaran Film Budaya Kaili, seolah menegaskan bahwa identitas, budaya, dan alam adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Di ruang kecil yang gelap itu, Kuku tak menawarkan jawaban. Ia hanya menunjukkan apa yang tersisa dan membiarkan kita memutuskan, apakah sisa itu akan dibiarkan habis, atau justru menjadi awal untuk menjaga yang masih ada.(*)