PALU,- Wakapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigjen Polisi Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama masyarakat dalam setiap persoalan yang terjadi di wilayah hukumnya. Ia menyatakan tidak akan berpihak kepada kepentingan perusahaan atau korporasi apabila berhadapan dengan hak dan kepentingan warga.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Helmi kepada awak media. Dengan nada serius, ia menekankan bahwa tanggung jawab moral sebagai aparat penegak hukum sekaligus putra daerah menjadi landasan utama sikapnya.
โSaya lebih takut mencederai hati masyarakat dibanding kehilangan jabatan,โ ujar Helmi.
Ia menegaskan bahwa kedekatan emosional dengan daerah kelahirannya membuat dirinya merasa memiliki kewajiban lebih besar untuk melindungi masyarakat.
โSebagai akamsi, anak kampung sini, saya harus memaksimalkan seluruh kekuatan saya untuk berdiri di sisi masyarakat. Saya ingin membela mereka dan memastikan mereka mendapatkan keadilan,โ katanya.
Menurut Helmi, tidak ada pihak yang bisa membujuk dirinya untuk mengambil kebijakan yang merugikan warga selama masyarakat berada di jalur yang benar.
โJangan pernah bermimpi bisa membujuk saya untuk bertindak melawan masyarakat. Apalagi jika sampai melakukan tindakan represif, pengusiran, penangkapan, atau bentuk tekanan lainnya terhadap warga yang memperjuangkan haknya secara sah,โ tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa upaya untuk mempengaruhi sikapnya bukan hal baru. Beberapa pihak, kata dia, pernah mencoba mendekatinya agar berpihak kepada kepentingan perusahaan.
โSudah beberapa kali saya dibujuk dengan berbagai cara supaya berada di sisi perusahaan untuk menekan masyarakat. Tapi saya tidak bisa melakukan itu,โ ujarnya.
Helmi menegaskan, jabatan yang diembannya bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan mengorbankan prinsip.
โJabatan ini bukan tujuan akhir. Jabatan bisa datang dan pergi, tapi kepercayaan masyarakat tidak bisa dibeli,โ katanya.
Ia bahkan mengingat pengalaman masa lalu ketika harus kehilangan posisi karena sikapnya membela masyarakat.
โTahun 2017 saya pernah dicopot oleh Kapolri karena lebih membela masyarakat daripada perusahaan di Banggai. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi jalan dan saya bisa menjadi jenderal serta Wakapolda Sulteng,โ ungkapnya.
Baginya, pengalaman tersebut justru memperkuat keyakinan bahwa keberpihakan pada rakyat tidak akan sia-sia.
โKalau harus kehilangan jabatan karena membela masyarakat, saya tidak takut. Saya percaya rezeki dan amanah sudah diatur oleh Allah,โ ucapnya.
Helmi juga memberikan peringatan kepada perusahaan yang beroperasi di Sulawesi Tengah. Ia meminta agar seluruh aktivitas bisnis menghormati kepentingan masyarakat dan tidak memicu konflik sosial.
โPerusahaan yang datang ke Sulteng jangan hanya mengeruk kekayaan alam lalu membuat rusuh atau membenturkan masyarakat. Jika itu terjadi, mereka harus memperbaiki diri,โ katanya.
Namun ia menegaskan, dukungan penuh akan diberikan kepada perusahaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
โKalau ada perusahaan yang hadir membawa kesejahteraan, membuka lapangan kerja, dan tidak menimbulkan konflik, maka itu wajib kita dukung dan lindungi,โ ujarnya.
Motivasi pribadi juga menjadi alasan kuat sikap tegas Helmi. Ia menyebut Sulawesi Tengah bukan sekadar wilayah tugas, melainkan rumah yang akan selalu menjadi tempatnya kembali.
โIni tanah kelahiran saya. Di sini keluarga saya tinggal, di sini makam ayah saya berada. Saya ingin pulang nanti sebagai orang yang pernah membela masyarakat, bukan sebaliknya,โ tuturnya.
Ia mengaku memiliki kekhawatiran tersendiri apabila suatu saat kembali ke daerah tersebut namun tidak lagi dihormati masyarakat.
โSaya ingin ketika pulang kampung, masyarakat menyambut dengan hangat. Yang paling saya takutkan justru jika saya dijauhi karena pernah menjadi polisi yang tidak membela mereka,โ katanya.
Helmi menegaskan bahwa keberpihakan kepada masyarakat merupakan komitmen moral yang tidak dapat ditawar.
โTidak ada yang membuat saya takut untuk berdiri bersama masyarakat ketika berhadapan dengan korporasi. Jabatan bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan mengorbankan keadilan,โ ujarnya.
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa amanah jabatan sepenuhnya berada dalam kehendak Tuhan.
โKalau Allah ridho, saya bisa menjadi Kapolda. Kalau tidak, jabatan apa pun tidak akan berarti. Yang penting saya tidak mencederai kepercayaan masyarakat,โ katanya.
Menutup pernyataannya, Helmi kembali menegaskan prinsip yang akan terus dipegang selama bertugas di Sulawesi Tengah.
โSaya akan melakukan yang terbaik untuk kampung halaman saya. Saya tidak ingin membuat hati dan kepercayaan masyarakat terhadap saya menjadi luka,โ pungkasnya.(*)







