DI balik hiruk pikuk perayaan pergantian tahun, ada sekelompok orang yang memilih menutup 2025 dengan cara berbeda. Bukan dengan kembang api atau pesta meriah, melainkan dengan menyusuri lorong-lorong sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kawatuna, Kota Palu. Di lokasi inilah, Rabu sore (31/12/2025), sejumlah jurnalis dari berbagai media di Sulawesi Tengah menebar kepedulian bagi mereka yang kerap luput dari sorotan: para pemulung.
Sore itu, aroma sampah bercampur dengan debu dan terik matahari. Di tengah tumpukan limbah rumah tangga dan sisa aktivitas kota, para pemulung tetap bekerja, memilah plastik, botol, dan barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Bagi mereka, akhir tahun bukan tentang hitungan mundur atau resolusi, melainkan tentang bagaimana esok hari dapur tetap mengepul.
Melihat realitas tersebut, para jurnalis berinisiatif menggelar aksi sosial dengan membagikan 100 paket nasi kotak kepada para pemulung. Aksi sederhana ini lahir dari rasa empati dan solidaritas, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, khususnya kelompok rentan yang hidup dari sektor informal.
Koordinator kegiatan, Hendly Mangkali dari Beritamorut.com, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi akhir tahun bagi insan pers. Menurutnya, profesi jurnalis tidak hanya bertugas menyampaikan informasi dan mengabarkan peristiwa, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial sebagai bagian dari masyarakat.
โDi penghujung tahun, kami ingin berbagi dan hadir langsung di tengah mereka yang jarang mendapat perhatian. Ini bukan soal besar atau kecilnya bantuan, tetapi tentang kepedulian dan kehadiran,โ ujar Hendly.
Bagi Hendly dan rekan-rekannya, TPA Kawatuna menjadi ruang perenungan. Di tempat inilah, wajah lain kehidupan kota terlihat jelas ketimpangan sosial, perjuangan hidup, dan keteguhan mereka yang bertahan dalam keterbatasan. Melalui aksi ini, para jurnalis ingin mengingatkan diri sendiri bahwa di balik setiap berita, ada manusia dengan cerita dan harapan.
Respons para pemulung pun penuh rasa haru. Beberapa dari mereka menyampaikan terima kasih dengan senyum sederhana, sementara yang lain memilih diam, menikmati nasi kotak yang mungkin menjadi hidangan istimewa di hari terakhir tahun itu. Bagi mereka, perhatian dan sapaan hangat terasa sama berharganya dengan bantuan yang diterima.
Aksi peduli sosial ini juga mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar. Kehadiran insan media di TPA Kawatuna dinilai menjadi jembatan empati, mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat kebersamaan. Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media digital, langkah kecil ini menunjukkan bahwa jurnalisme tetap memiliki sisi kemanusiaan yang kuat.
Lebih jauh, Hendly berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda akhir tahun semata. Ia ingin semangat berbagi dan kolaborasi antarjurnalis terus tumbuh, menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan dan menginspirasi berbagai pihak untuk turut peduli.
Menutup tahun 2025, aksi para jurnalis di TPA Kawatuna menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial tidak selalu harus besar dan megah. Terkadang, ia hadir dalam bentuk paling sederhana: sepinggir nasi, uluran tangan, dan kesediaan untuk melihat sesama dengan hati. Di tengah tumpukan sampah dan keterbatasan, harapan pun tetap tumbuh bahwa kemanusiaan masih menjadi nilai utama yang menyatukan semua.(*)





