PALU,- Kota Palu akan menjadi lokasi pelaksanaan upacara pengecoran bagian keempat Rupang Buddha Nusantara yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 12 April 2026, di Vihara Karuna Dipa.
Kegiatan ini akan dipimpin langsung oleh Bhikkhu Dhammasubho Mahathera dan dihadiri puluhan bhikkhu dari Saแน gha Theravฤda Indonesia serta ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia.
Pengecoran tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saแน gha Theravฤda Indonesia yang mengusung tema โMenapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri.โ Tahun 2026 menandai perjalanan 50 tahun Saแน gha Theravฤda Indonesia dalam mengawal Dhamma dan membimbing umat di Tanah Air.
Pembentukan panitia nasional peringatan ini telah diputuskan dalam Rapat Pimpinan II tahun 2025. Salah satu agenda utamanya adalah program pengecoran Rupang Buddha Nusantara yang dirancang dilaksanakan di berbagai pulau sebagai representasi wilayah Nusantara.
Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di sejumlah daerah, yaitu Medan untuk Pulau Sumatra, Samarinda di Vihara Muladharma untuk Kalimantan, serta Denpasar untuk Bali. Setelah Palu sebagai perwakilan Sulawesi, pengecoran akan dilanjutkan di Surabaya untuk Pulau Jawa dan ditutup di Daerah Khusus Jakarta.
Rupang Buddha Nusantara ini mengacu pada temuan arkeologis berupa rupang Buddha di reruntuhan kompleks Candi Sewu pada Mei 2025. Temuan tersebut kemudian dijadikan prototipe dengan mudrฤ Bhลซmisparsa, yang bermakna โBumi sebagai saksi dari kumpulan kebajikan.โ
Proses pembuatan rupang melibatkan seniman dari Amertha Art Studio, Sugito Sutarmin. Seluruh logam yang digunakan dalam pengecoran berasal dari donasi umat Buddha, sehingga kegiatan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga partisipatif.
Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, saat diwawancarai di Palu, Kamis (9/4/2026), menyampaikan bahwa selama 50 tahun perjalanan Saแน gha Theravฤda Indonesia, para bhikkhu telah menjalankan peran penting dalam menyebarkan Dhamma dan membimbing umat di Indonesia.
Ia menilai pencapaian tersebut sebagai bukti konsistensi dan dedikasi Saแน gha dalam kehidupan beragama.
Selain itu, ia berharap pelaksanaan pengecoran di Palu dapat berlangsung meriah, tertib, dan penuh sukacita.
Sebagai sosok yang mengikuti perkembangan Vihara Karuna Dipa sejak peletakan batu pertama pada 1995, Bhikkhu Dhammasubho melihat adanya kemajuan signifikan dalam kehidupan umat Buddha di Palu. Menurutnya, umat Buddha di kota tersebut menunjukkan semangat untuk terus berkembang dan berkontribusi dalam kebaikan.
Ia pun berpesan agar umat tetap menjunjung nilai kejujuran, ketekunan, ketelitian, dan semangat dalam menjalani kehidupan sebagai fondasi untuk mencapai hasil yang baik./(*)






