DONGGALA,- Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili/2026 Masehi di Kabupaten Donggala, Minggu (8/2/2026) malam, berlangsung meriah dan sarat makna. Bertajuk Harmoni Dua Budaya: TionghoaโKaili, kegiatan yang digelar di Jalan Kemakmuran, Kota Donggala, menegaskan identitas daerah sebagai ruang hidup multikultural tempat akulturasi budaya tumbuh dan dirawat lintas generasi.
Perayaan tersebut dihadiri Bupati Donggala Vera Elena Laruni, Wakil Bupati Donggala Taufik M. Burhan, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah Wijaya Chandra, tokoh masyarakat Tionghoa Donggala Rony Tanusaputra, alumni Chung Hwa School Donggala, unsur Forkopimda Kabupaten Donggala, masyarakat Tionghoa, serta warga Kota Donggala dan sekitarnya.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Donggala, Muhammad, menegaskan perayaan Imlek 2026 bukan sekadar perayaan etnis, melainkan momentum memperkuat akulturasi budaya yang telah mengakar kuat di Donggala.
โPerayaan Imlek di Donggala bukan hanya perayaan etnis, tetapi momentum memperkuat akulturasi budaya yang telah mengakar kuat,โ ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan keragaman budaya sebagai daya tarik wisata yang berdampak langsung bagi masyarakat. โKami ingin keragaman budaya menjadi daya tarik wisata yang berdampak langsung bagi ekonomi masyarakat,โ katanya.
Rangkaian kegiatan meliputi atraksi barongsai, street festival, dan pesta kembang api. Pemerintah daerah juga melibatkan pelaku UMKM dan tenant kuliner agar manfaat ekonomi dirasakan luas.
โKegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak tanpa menggunakan anggaran APBD,โ tambahnya.
Dalam sambutannya, Bupati Donggala Vera Elena Laruni menyampaikan bahwa Imlek sejak awal melambangkan harapan baru akan kehidupan yang lebih baik.
โImlek mengajarkan harapan baru. Semangat tahun Kuda berunsur api kita maknai sebagai dorongan untuk bergerak cepat, tepat, dan terukur dalam membangun Donggala,โ ujarnya.
Bupati mengaitkan filosofi tersebut dengan tradisi Kaili, khususnya tradisi tanam Novunja, yang mencerminkan nilai kerja kolektif dan harapan masa depan. Menurutnya, kesamaan nilai inilah yang menjadi fondasi harmoni budaya di Donggala.
โHarmoni Tionghoa dan Kaili bukan sekadar simbol, tetapi nilai hidup yang tumbuh dari tradisi dan kerja kolektif masyarakat Donggala,โ katanya.
Pada kesempatan itu, Bupati juga memaparkan sejumlah agenda pembangunan daerah, antara lain penataan Donggala Plaza, pengembangan Tanjung Karang Beachwalk dan pusat kuliner Tanjung Karang Hangout, pembangunan hotel berkapasitas 100 kamar beserta fasilitas hall di Boneoge, serta berbagai proyek penataan kota lainnya.
โDonggala akan terus berbenah menjadi daerah yang tertata, menarik, dan memberi ruang bagi semua budaya untuk berkembang,โ tegasnya.
Ketua PSMTI Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menegaskan identitas Tionghoa di Donggala bukan identitas luar, melainkan bagian dari akar lokal.
โIdentitas Tionghoa di Donggala bukan identitas luar, melainkan bagian dari akar lokal yang telah hidup lama di daerah ini,โ ujarnya.
Ia menyebut perayaan Imlek memiliki makna personal sekaligus kolektif, merujuk pada latar keluarganya sebagai keturunan Tionghoa asal Donggala. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti nyata akulturasi budaya yang telah berlangsung lama.
Wijaya juga menyoroti Jalan Kemakmuran sebagai lokasi kegiatan yang memiliki nilai historis sebagai pusat niaga masyarakat Tionghoa sejak masa lalu dan hingga kini menjadi denyut aktivitas ekonomi kota.
โJalan Kemakmuran bukan sekadar lokasi kegiatan, tetapi simbol sejarah ekonomi dan harapan kesejahteraan Donggala,โ katanya.
Ia menambahkan, perayaan Imlek tahun ini menjadi momentum penting bagi komunitas Tionghoa di Sulawesi Tengah dalam menampilkan kebhinekaan Indonesia secara terbuka.
โPerayaan ini menunjukkan kebudayaan Tionghoa tumbuh dalam ruang sosial yang inklusif dan harmonis,โ ujarnya.
Semangat kebersamaan tercermin dalam seluruh pengisi acara, mulai dari pelatih dan pemain barongsai, peserta Koko dan Cici dari berbagai latar etnis, hingga pertunjukan kesenian tradisional Kaili, Dadendate.
Perayaan ini sekaligus menegaskan bahwa akulturasi budaya di Donggala bukan sekadar pertemuan tradisi, melainkan kekuatan sosial yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.(*)







