PALU

Wakapolda Sulteng : Saya Lebih Takut Mencederai Hati Rakyat Daripada Berpihak pada Perusahaan

×

Wakapolda Sulteng : Saya Lebih Takut Mencederai Hati Rakyat Daripada Berpihak pada Perusahaan

Sebarkan artikel ini

PALU,- Wakapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Brigjen Polisi Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, kembali menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama masyarakat dalam setiap persoalan yang terjadi di daerah ini. Ia menolak tegas segala bentuk intervensi dari korporasi atau pihak berkepentingan yang dapat merugikan rakyat.

Helmi mengatakan bahwa keputusan-keputusannya selalu didasarkan pada keberpihakan terhadap masyarakat. Sebagai putra daerah, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga masyarakatnya.

โ€œSaya ini akamsi, anak kampung sini. Saya jauh lebih takut melukai hati masyarakat dibanding apa pun itu. Kekuatan saya, jabatan saya, semuanya harus saya gunakan untuk berada di sisi mereka,โ€ tegas Helmi.

Helmi mengingatkan bahwa siapa pun tidak perlu bermimpi bisa membujuknya untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan publik. Ia menegaskan tidak akan pernah memerintahkan tindakan represif terhadap masyarakat selama mereka berada pada jalur yang benar.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali mengalami upaya pembujukan dari pihak tertentu agar memihak perusahaan dalam konflik dengan masyarakat. Namun, seluruh pendekatan itu ia tolak mentah-mentah.

Jabatan bukan sesuatu yang dikhawatirkan Helmi. Ia bercerita bahwa pada tahun 2017, dirinya pernah dicopot dari jabatan karena lebih memilih membela masyarakat ketimbang perusahaan di Kabupaten Banggai.

โ€œSaya pernah dicopot Kapolri karena membela masyarakat. Tapi Allah berkehendak lain, saya tetap diberi amanah jadi jenderal dan kini Wakapolda Sulteng,โ€ ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan tidak akan gentar jika sikapnya saat ini kembali dipertaruhkan dengan jabatan.

Helmi memberi peringatan tegas kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sulteng namun justru menimbulkan kekacauan dan konflik sosial.

โ€œKalau datang hanya mengeruk kekayaan alam lalu bikin rusuh, membuat masyarakat saling bentur, maka saya yang pertama berdiri di depan untuk membela rakyat,โ€ katanya.

Sebaliknya, ia menyatakan dukungan penuh untuk perusahaan yang hadir secara benar, memberikan manfaat nyata, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat.

Keberanian Helmi membela masyarakat bukan tanpa alasan. Sulteng merupakan tanah kelahirannya, tempat di mana ia akan pulang ketika pensiun, dan tempat keluarganya bermukim. Di Lembah Palu, tepatnya Poboya, terdapat makam ayahandanya dan keluarga besarnya.

โ€œSaya ingin saat pulang kampung atau datang lebaran, saya disambut hangat karena pernah membela masyarakat. Yang saya takutkan justru jika suatu hari saya dijauhi karena dianggap membela perusahaan, bukan rakyat,โ€ ucap mantan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel itu.

Menurutnya, menerima intervensi perusahaan berarti bukan hanya menyakiti masyarakat, tetapi juga mencederai perasaan keluarga dan orang tuanya.

โ€œTidak Ada yang Saya Takuti Soal Keberpihakan Iniโ€. Tegasnya.

Wakapolda Helmi menutup pernyataan dengan tegas. Baginya, jabatan hanyalah sementara. Ketika masa tugas selesai, tidak ada yang perlu ditakutkan.

โ€œJabatan ini ada waktunya berakhir. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kalau Allah rida, saya bisa jadi Kapolda meski banyak rintangan. Sebagai akamsi, saya wajib melakukan yang terbaik untuk kampung halaman. Saya tidak akan biarkan kepercayaan masyarakat pada saya cedera,โ€ pungkasnya.(*)