PALU โ Pengecoran bagian keempat Rupang Buddha Nusantara dilaksanakan di Vihara Karuna Dipa, Jalan S. Lariang, Kota Palu, Ahad malam, dipimpin langsung oleh Bhikkhu Dhammasubho Mahathera. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembuatan rupang yang dilakukan secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia dan akan disatukan di Jakarta pada 21 Juni 2026.
Rupang Buddha Nusantara dicetak dalam beberapa bagian di sejumlah wilayah, yakni Medan yang mewakili Sumatera, Bali, Samarinda mewakili Kalimantan, Palu mewakili Sulawesi, Surabaya mewakili Jawa, serta Jakarta sebagai lokasi penyatuan akhir.
Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menjelaskan, setelah seluruh bagian selesai dicetak, rupang setinggi sekitar 5 meter tersebut akan dirakit dan ditempatkan di vihara di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembuatan rupang ini juga menjadi bagian dari peringatan tahun kencana setengah abad Sangha Theravada Indonesia (STI).
Ia menekankan bahwa pembuatan rupang memiliki makna penting bagi umat Buddha. Melalui rupang, umat tidak hanya mengenal ajaran Buddha, tetapi juga sosoknya secara simbolik.
โKarena itu, rupang Buddha berkembang menjadi karya seni,โ ujarnya.
Menurutnya, keragaman bentuk rupang Buddha di berbagai negara seperti India, Tiongkok, Jepang, Jawa (Borobudur), Sri Lanka, hingga Bali merupakan hal yang wajar dan mencerminkan perkembangan budaya.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha menyebutkan bahwa STI merupakan organisasi keagamaan yang telah berusia 50 tahun sejak berdiri pada 1976. Momentum tersebut dimaknai melalui pembuatan Rupang Buddha Nusantara sebagai simbol perjalanan dalam mengawal Dhamma dan membimbing umat.
Rupang tersebut mengacu pada model (mockup) yang ditemukan di Candi Sewu. Sebelumnya, bagian kepala dan badan rupang ditemukan terpisah dalam waktu yang lama, sebelum akhirnya berhasil disatukan kembali secara presisi melalui proses pengukuran yang cermat.
Ia menambahkan, pihaknya memastikan seluruh proses berjalan sesuai kaidah administratif dan teknis sebagai bagian dari penguatan ekosistem moderasi beragama.
โKhazanah budaya ini penting untuk pembelajaran generasi mendatang agar mereka dapat menghormati dan menghargai peradaban bangsa,โ katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Daerah Bhikkhu Chandakaro Mahathera mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan tersebut telah dilakukan secara intensif sejak satu bulan terakhir.
Ia menceritakan, sekitar dua tahun lalu dirinya diminta kesiapan untuk menjadi tuan rumah pengecoran di Palu.
โSaya langsung menjawab bisa, meski saat itu belum memikirkan secara rinci pelaksanaannya,โ ujarnya.
Berbagai kebutuhan upacara, termasuk perlengkapan persembahan, didatangkan dari pusat untuk mendukung kelancaran kegiatan.
โSemoga seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik, lancar, dan sukses,โ tambahnya.
Upacara pengecoran ini dihadiri sekitar 40 bhikkhu dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.(*)






